Waktu itu hidup masih serasa ringan, tanpa beban walaupun banyak keributan di luar dunia sana, ingin rasanya bernostalgia dengan rasa nyaman dan ringanku saat itu..
Hingga akhirnya aku menemukan diriku terduduk sendiri di depan layar monitor yang biasa kutekuni ditemani sebungkus rokok yang bahkan dulu enggan kusentuh. Ahhh,,,,sebenarnya aku terlalu malas untuk menceritakannya, tapi aku adalah orang yang tak bisa menyimpan segala unek-unek dikepala sehingga menjadi penuh dan ruwet karenanya.
Saat itu aku sendiri, tak mencari, tak menanti, tak berharap, namun hatiku sungguh sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada dia yang tak pernah aku harap, tak pernah ingin ku miliki, tak pernah ku tuntut. Dan sampai akhirnya dia datang masuk dalam hidupku, rasa mulai ada..melebarkan sayap dan memanggut palung hati, merobek semua sampai tak tersisa lagi.. dia orang yang kusayang.
Seperti kisah cinta kebanyakannya yang pada awalnya berjalan baik-baik saja dan perlahan satu persatu masalah pun datang. Tapi aku masih tetap bertahan, walau terkadang cobaan yang datang tak bisa ku tahan.. sampai terkikis habis apa yang terselip di tiap sisi sel otak, sampai terdelusi seluruhnya apa yang mengalir dari setiap labirin tubuhku.
Sungguh aku ingin berhenti, berlari dan mecari menumpahkan segala letihku, tapi belum saatnya untuk berhenti berlari dan mencari. Dan aku pun mengerti bahwa dia pun belum ingin berhenti, berlari dan mecari sampai ada seutas tali kuat mengikat erat tubuh nya, mengoyak nya agar henti lari dengan segala cari. Aku pun menanti saat itu, Aku butuh itu,,, berbaring disana, akrabimu.. bersandar disana tumpahkan segala letih. Namun apa yang kubutuhkan belum hadir di sini begitupun dia. Dan sampai saat itu tiba, aku hanya dapat berlari dan terus berlari menjauh. Mencari ruang dan berhenti pada tujuan.
Arsip untuk Story kategori
RASA ‘ITU’
Posted in Emosi, Kehidupan, Love, Story on November 16, 2008 by SunshineCINTA & LUKA
Posted in Kehidupan, Story on September 24, 2008 by SunshineAku ingin tidur dalam pelukan priaku, ingin bangun di pagi hari dan mendapatinya terbaring disampingku tanpa dihinggapi perasaan was-was dia akan meninggalkanku. Aku ingin dia kembali kepelukanku saat waktunya untuk pulang. Sungguh aturan itu tidaklah banyak. Hanya cuma itu. Tapi baginya sulit sekali. Mungkin nanti berubah, saat hubungan ini melangkah lebih jauh, bila ia ingin terikat. Mustahilkah?? Karena selama ini dia menunjukkan sikap tidak perlu lebih terikat. Terus terang, yang sebenarnya aku inginkan adalah hubungan yang tidak terlampau rumit.
Belakangan ini saya berpikir mengapa lelaki seusianya berkencan dengan wanita lebih muda. Untuk apa lelaki seusianya menukar sejenis kemitraan yang setara itu dengn wanita yang pusarnya ditindik, tubuhnya ditatto, tak jarang menganggap kencan yang asyik adalah nongkrong di club malam sumpek dan menenggak pil ecstasy palsu?.
Tapi kini saya mengerti, saya paham dengan daya tarik itu. Lelaki sebayanya menyukai wanita lebih muda sebab para wanita itu tak punya alasan untuk bersikap getir. Wanita seusia itu cenderung belum mengalami patah hati akibat rumah tangga berantakan, pengacara perceraian, perebutan hak asuh anak, atau harta gono-gini. Wanita seusia itu tidak memiliki kekecewaan yang membebani para wanita dan pria tiga atau empat puluhan. Itulah kenyataan, sangat kejam. Hidup wanita seusia itu cenderung belum banyak dirusak laki-laki. Laki-laki tiga atau empat puluhan tidak mengencani wanita lebih muda karena tubuh mereka masih kenyal. Itu hanya propaganda. Mereka mengencani para wanita itu supaya mereka bisa jadi perusak hidup wanita itu.
What a Life….My life……suck…Damn…fuck oFF!!!!!!!!!!!!!
Dia membuatku kesal betuLLLLL!!!!.
ABOUT HIM….dalam rentang waktu
Posted in Love, Story on Agustus 5, 2008 by SunshineAda hal yang membedakan diantara aku dan dia…..waktu. Dimana ia terlahir jauh sebelum diriku ada. Dan perbedaan itu telah membangun tembok tinggi antara aku dan pria itu.
Bagiku, kehidupan pria itu sungguh semarak betul. Rentang usia yang terpaut jauh terkadang membuat kami sulit berkomunikasi. Tapi tak pernah tidak membuatku merasa nyaman jika berada di dekat pria itu. Ngobrol dengannya juga terasa menyenangkan, sebab pengalamannya luas, kisah dari hobi jalan-jalannya juga diwarnai lelucon kecil hingga buatku tertawa. Ada saat dimana aku merasa sedikit inferior saat berhadapan dengannya. Mungkin karena pengalamannya yang segudang, dan banyak hal yang diketahuinya, terkadang jadi speechless dibuatnya.
Sebuah tas berisi laptop selalu menemaninya kemanapun ia berpergian. Yaa… jika boleh dikatakan, ia tergolong pria paruh baya yang metroseksual. Tidak juga selalu berpenampilan rapi, tapi seleranya dalam memilih baju, celana, sepatu dan aksesoris lainnya selalu dipadu padankan sesuai dengan warnanya, katanya sih biar matching.
Kepedihan selalu datang dan pergi dari dirinya. Tempaan kehidupan yang seling berganti dalam hidupnya membuat dia menjadi satu pribadi tak utuh. Seperti puzzle yang tak dapat berwujud menjadi gambar karena satu potong puzzle hilang. Itulah dia.. ‘Something missing on him’.
Pria pekerja keras, dengan pribadi yang kuat dan juga keras kepala. Dia bisa menjadi satu pribadi yang membingungkan. Satu malam, dia akan menjadi pribadi yang sangat menyenangkan dan penuh kehangatan membuat orang merasa nyaman dekat dengannya ingin memperhatikan tak berkesudahan. Namun pagi harinya, dia akan berubah menjadi sosok yang sangat berbeda, ketus dan tak perduli dengan sekelilingnya. Ibarat Sybil yang mempunyai 16 kepribadian yang pandai memanipulasi orang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Aku belum lama mengenalnya, namun ketika berada di sisinya, seakan aku telah tahu dirinya. Sosok itu begitu akrab, nyaman, namun juga perlu ‘reserve’ yang besar untuk berhadapan dengannya. Dia sosok yang tak mudah tertebak keinginan dan kemauannya.
I miss you….yes, I do.
SHORT CONVERSATION II
Posted in Kehidupan, Keseharian, Story on Juli 27, 2008 by SunshineSiang itu di salah satu cafe di Jogja, aku bertemu dan berbincang sekedar bertukar pikiran. Rama, salah satu teman di kota yang dulu ku singgahi selama beberapa tahun, sudah lama kami tidak bertatap muka.
Aku “Bagaimana agar hidup tenang?”
Rama “Sabar dan ikhlas saja. Sesungguhnya kita tidak berhak dimiliki ataupun memiliki apa yang tersedia di dunia ini, bahkan Dia… Mulailah mendekatkan diri pada-Nya”
Malam ini seluruh emosi hanya menjadi diam, luka itu berwujud senyuman, dan sedih berubah menjadi kekhusyu’an. Kutitip doa di setiap hela nafas….
Thx Rama.
TERSUNGKUR DALAM PASRAH DAN SABAR TERAMAT SANGAT
Posted in Emosi, Keseharian, Story on Juli 20, 2008 by SunshineHari ini aku dan lara bertemu di suatu cafe untuk makan siang dan sekedar berbincang , “Aduh…kemana aja sih lo, gak pernah keliatan, sibuk banget keliatannya. Eh kemaren gw abis dateng ke party nya si A temen kita dia ulang tahun dan dia pacaran dengan si B sekarang yang model iklan itu.” Lara, dia terlihat selalu bersemangat seperti hari ini dengan t-shirt merah dan blue jeans nya dia terus berceloteh tanpa henti. Pembicaraan terus berlanjut
“Eh tau gak sih, sekarang si C mau merit sama si E bulan agustus ini udah nyebarin undangan segala, gw denger resepsinya bakal gede-gedean, gw juga udah sempet ketemu, mereka emang pasangan serasi dan mesra banget.. Gua jadi ngiri.” Selama satu setengah jam pertemuan itu, sedikit sekali aku berkomentar. Saat itu aku merasa lebih baik memposisikan diri sebagai pendengar, dari pada bertindak sebagai komentator.
Lalu kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Lara “Eh, gimana hubungan lo sama dia, baik-baik aja? cerita dong..”
AaarrrgHhhh……!!! pembicaraan yang seharusnya menyenangkan, jadi terdengar ruwet bin rumit, dan sukses bikin mumet untuk ku dengar. Aku sudah tau permulaan pembicaraan ini akan berakhir ke satu titik. Aku terdiam dan hanya meninggalkan senyum tersungging pada Lara, namun membuat ia semakin penasaran.
Lara, dia teman terdekatku tak jarang kami suka berbagi cerita tentang permasalahan apapun yang terjadi. Tapi, sungguh tak adakah tempat dimana seharusnya aku tak mendengar atau mengingat sedikitpun tentangnya…?!!
Dan pembicaraan masih berlanjut, kami bertukar pikiran dan mencurahkan segala kekesalan. Kepenatan ini sungguh di ambang batas. Menyiksaku dengan kejamnya, memagutku dengan sadisnya, melumatku dengan rakusnya, menyetubuhiku dengan liarnya.
Sampai kini kucoba memahami apa yang terjadi antara aku dan dia, membuat dinding otakku berdenyut kencang. Kondisi ini semakin tak terkendali, akar masalah dan semuanya menjadi semakin tak jelas, sangat memusingkan dan membuat gamang. Aku tersiksa membungkam bara, menanggung rindu. Tak ada kata yang mampu menjelaskannya, hubungan ini terputus begitu saja. Kamu tak akan mengerti bagaimana kesepianku, membayangkannya adalah siksa. Tak ada lagi cinta yang layak diperjuangkan, dipertahankan, dan dikejar, karena Cinta itu sendiri sudah kehilangan maknanya.
Kalimat terakhir yang Lara ucapkan “Sabar ya, tabah…Kamu harus kuat. Yakin, kamu pasti bisa.”
Di antara doa yang terucap, diantara ketafakuran yang dalam, terselip mohon ku pada-Nya, “Mohon berikan keikhlasan yang sangat.. dalam diriku untuk melepaskannya.”
Tak tersisa,,, Habis sudah……..