Hari ini aku dan lara bertemu di suatu cafe untuk makan siang dan sekedar berbincang , “Aduh…kemana aja sih lo, gak pernah keliatan, sibuk banget keliatannya. Eh kemaren gw abis dateng ke party nya si A temen kita dia ulang tahun dan dia pacaran dengan si B sekarang yang model iklan itu.” Lara, dia terlihat selalu bersemangat seperti hari ini dengan t-shirt merah dan blue jeans nya dia terus berceloteh tanpa henti. Pembicaraan terus berlanjut
“Eh tau gak sih, sekarang si C mau merit sama si E bulan agustus ini udah nyebarin undangan segala, gw denger resepsinya bakal gede-gedean, gw juga udah sempet ketemu, mereka emang pasangan serasi dan mesra banget.. Gua jadi ngiri.” Selama satu setengah jam pertemuan itu, sedikit sekali aku berkomentar. Saat itu aku merasa lebih baik memposisikan diri sebagai pendengar, dari pada bertindak sebagai komentator.
Lalu kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Lara “Eh, gimana hubungan lo sama dia, baik-baik aja? cerita dong..”
AaarrrgHhhh……!!! pembicaraan yang seharusnya menyenangkan, jadi terdengar ruwet bin rumit, dan sukses bikin mumet untuk ku dengar. Aku sudah tau permulaan pembicaraan ini akan berakhir ke satu titik. Aku terdiam dan hanya meninggalkan senyum tersungging pada Lara, namun membuat ia semakin penasaran.
Lara, dia teman terdekatku tak jarang kami suka berbagi cerita tentang permasalahan apapun yang terjadi. Tapi, sungguh tak adakah tempat dimana seharusnya aku tak mendengar atau mengingat sedikitpun tentangnya…?!!
Dan pembicaraan masih berlanjut, kami bertukar pikiran dan mencurahkan segala kekesalan. Kepenatan ini sungguh di ambang batas. Menyiksaku dengan kejamnya, memagutku dengan sadisnya, melumatku dengan rakusnya, menyetubuhiku dengan liarnya.
Sampai kini kucoba memahami apa yang terjadi antara aku dan dia, membuat dinding otakku berdenyut kencang. Kondisi ini semakin tak terkendali, akar masalah dan semuanya menjadi semakin tak jelas, sangat memusingkan dan membuat gamang. Aku tersiksa membungkam bara, menanggung rindu. Tak ada kata yang mampu menjelaskannya, hubungan ini terputus begitu saja. Kamu tak akan mengerti bagaimana kesepianku, membayangkannya adalah siksa. Tak ada lagi cinta yang layak diperjuangkan, dipertahankan, dan dikejar, karena Cinta itu sendiri sudah kehilangan maknanya.
Kalimat terakhir yang Lara ucapkan “Sabar ya, tabah…Kamu harus kuat. Yakin, kamu pasti bisa.”
Di antara doa yang terucap, diantara ketafakuran yang dalam, terselip mohon ku pada-Nya, “Mohon berikan keikhlasan yang sangat.. dalam diriku untuk melepaskannya.”
Tak tersisa,,, Habis sudah……..