Arsip untuk Kehidupan kategori

MALAM UNTUK MELUPAKAN

Posted in Emosi, Kehidupan, sadness on Januari 1, 2009 by Sunshine

Mata ini nanar menatap langit-langit kamar.
Tau gak kamu? Aku sudah tidak tahan lagi!
Saya sudah tidak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan terjawab dengan ketidakjujuran.
Saya sudah tidak tahan dengan masalah-masalah tanpa penyelesaian.
Saya sudah tidak tahan jika harus mengulang perpisahan.

Apa yang sedang mengikat perasaan kami sekarang, cinta atau hanya sekedar kebutuhan untuk mengisi kesepian?
Selalu seperti ini, selalu ada bingung, selalu ada benci, menyelinap ke dalam kebersamaan kami. Kebersamaan yang pelik.

Tau gak kamu? Saya takut kehilangan!
Tidak. Tidak untuk sekarang. Biarkan.. biarkan waktu yang menentukan. Biarkan lewat lagi satu malam. Biarkan lewat higga dua atau tiga, empat malam. Biarkan malam-malam itu yang menjawab pertanyaan. Biarkan malam itu menentukan masa depan.

Saya meraih bungkus rokok dan ambil sebatang lalu dinyalakan. Kuhisap dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara yang diam.

Tau gak kamu? Mataku merah, basah..!
Apa bahagia? Apa mata basah adalah tidak bahagia dan tidak bahagia adalah mata basah? Apa mata saya harus tak basah ketika saya bahagia?
Mata saya basah karena sudah cukup lama diri ini terjebak dalam situasi seperti ini. Saya ngeri membayangkan apa kelak yang akan terjadi jika terus membiarkan diri terjebak dalam hubungan begitu rumit disaat sebenarnya saya bisa menghindar dengan memilih rute jalan yang lebih aman, walaupun hati tercabik dan tersakiti, tapi alangkah lebih baik sakit dini daripada nanti-nanti.

Saya menimbang-nimbang. Bimbang.
Harapan yang mulai raib. Bingung yang ajaib. Sulit sekali mencari jalan keluar. Selain rasa nyeri. Tidak seorang pun berharap untuk kecewa. Celakalah kau harapan!

Waktu serasa berhenti dalam diam panjang keharuan. Saya ingat ini Desember terakhir di tahun ini, ya pergantian tahun. Namun tidak seperti biasanya, sekarang saya hanya dikamar menikmati malam sendiri dalam kesunyian. Mengingat, menimbang untuk melupakan.
Saya malas menyetujui ajakan teman yang tidak jauh mengitari kafe ini dan itu secara bergantian.
Kafe dengan musik yang menghentak, dipenuhi asap rokok meraja di setiap penjuru, berhimpit sesak terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar.
Untuk saling bertukar lidah-berludah dengan orang yang baru dikenal. Utuk muntah di atas jamban dan kemudian terpingkal-pingkal.
Untuk saling bersentuhan dan mendesah massal.
Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta gombal.
Bahana tawa, pesta pora, sentuhan menggoda, senyum manja. Sementara saya akan disana dan tertawa untuk entah. Berpura-pura tertawa tepatnya, mengelabui pikiran sendiri yang secara diam-diam sedang mencari makna. Huuuh… malam ini saya enggan membuang waktu disana. Walaupun sebentar disana saya bisa melupakan sejenak nama yang ingin dilupakan. Sejenak menghilangkan luka yang makin dalam. Namun saya memilih di kamar ini sendiri ditemani rajaman semu hingga fajar menculik malam. Melamunkan sesuatu kemudian kuputuskan untuk melupakannya. Berharap sakit itu cepat sembuh dan segera pulih. Berharap sakit itu berlalu dan bisa hidup lebih bahagia.
Dan semalam ada bintang.

- Happy New Year 2009 -

RASA ‘ITU’

Posted in Emosi, Kehidupan, Love, Story on November 16, 2008 by Sunshine

Waktu itu hidup masih serasa ringan, tanpa beban walaupun banyak keributan di luar dunia sana, ingin rasanya bernostalgia dengan rasa nyaman dan ringanku saat itu..
Hingga akhirnya aku menemukan diriku terduduk sendiri di depan layar monitor yang biasa kutekuni ditemani sebungkus rokok yang bahkan dulu enggan kusentuh. Ahhh,,,,sebenarnya aku terlalu malas untuk menceritakannya, tapi aku adalah orang yang tak bisa menyimpan segala unek-unek dikepala sehingga menjadi penuh dan ruwet karenanya.
Saat itu aku sendiri, tak mencari, tak menanti, tak berharap, namun hatiku sungguh sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada dia yang tak pernah aku harap, tak pernah ingin ku miliki, tak pernah ku tuntut. Dan sampai akhirnya dia datang masuk dalam hidupku, rasa mulai ada..melebarkan sayap dan memanggut palung hati, merobek semua sampai tak tersisa lagi.. dia orang yang kusayang.
Seperti kisah cinta kebanyakannya yang pada awalnya berjalan baik-baik saja dan perlahan satu persatu masalah pun datang. Tapi aku masih tetap bertahan, walau terkadang cobaan yang datang tak bisa ku tahan.. sampai terkikis habis apa yang terselip di tiap sisi sel otak, sampai terdelusi seluruhnya apa yang mengalir dari setiap labirin tubuhku.
Sungguh aku ingin berhenti, berlari dan mecari menumpahkan segala letihku, tapi belum saatnya untuk berhenti berlari dan mencari. Dan aku pun mengerti bahwa dia pun belum ingin berhenti, berlari dan mecari sampai ada seutas tali kuat mengikat erat tubuh nya, mengoyak nya agar henti lari dengan segala cari. Aku pun menanti saat itu, Aku butuh itu,,, berbaring disana, akrabimu.. bersandar disana tumpahkan segala letih. Namun apa yang kubutuhkan belum hadir di sini begitupun dia. Dan sampai saat itu tiba, aku hanya dapat berlari dan terus berlari menjauh. Mencari ruang dan berhenti pada tujuan.

ambyaaar…..ambyuuur….

Posted in Kehidupan, Love on Oktober 23, 2008 by Sunshine

Begitu ingin duduk disampingmu
tanpa kata-kata, tanpa bicara
kita berdua, duduk berdampingan
sejenak
sebelum derai hujan turun, kaburkan angkasa bermiliar bintang
sebelum kau dan aku berpisah
tanpa kata, tanpa aksara selain keringanan..
Ahhh…. itupun jika ada waktumu..

Jika cinta memiliki hati,
tentu dia mengerti makna berbelas kasihan.

silent night, in my room..

CINTA & LUKA

Posted in Kehidupan, Story on September 24, 2008 by Sunshine

Aku ingin tidur dalam pelukan priaku, ingin bangun di pagi hari dan mendapatinya terbaring disampingku tanpa dihinggapi perasaan was-was dia akan meninggalkanku. Aku ingin dia kembali kepelukanku saat waktunya untuk pulang. Sungguh aturan itu tidaklah banyak. Hanya cuma itu. Tapi baginya sulit sekali. Mungkin nanti berubah, saat hubungan ini melangkah lebih jauh, bila ia ingin terikat. Mustahilkah?? Karena selama ini dia menunjukkan sikap tidak perlu lebih terikat. Terus terang, yang sebenarnya aku inginkan adalah hubungan yang tidak terlampau rumit.

Belakangan ini saya berpikir mengapa lelaki seusianya berkencan dengan wanita lebih muda. Untuk apa lelaki seusianya menukar sejenis kemitraan yang setara itu dengn wanita yang pusarnya ditindik, tubuhnya ditatto, tak jarang menganggap kencan yang asyik adalah nongkrong di club malam sumpek dan menenggak pil ecstasy palsu?.
Tapi kini saya mengerti, saya paham dengan daya tarik itu. Lelaki sebayanya menyukai wanita lebih muda sebab para wanita itu tak punya alasan untuk bersikap getir. Wanita seusia itu cenderung belum mengalami patah hati akibat rumah tangga berantakan, pengacara perceraian, perebutan hak asuh anak, atau harta gono-gini. Wanita seusia itu tidak memiliki kekecewaan yang membebani para wanita dan pria tiga atau empat puluhan. Itulah kenyataan, sangat kejam. Hidup wanita seusia itu cenderung belum banyak dirusak laki-laki. Laki-laki tiga atau empat puluhan tidak mengencani wanita lebih muda karena tubuh mereka masih kenyal. Itu hanya propaganda. Mereka mengencani para wanita itu supaya mereka bisa jadi perusak hidup wanita itu.
What a Life….My life……suck…Damn…fuck oFF!!!!!!!!!!!!!
Dia membuatku kesal betuLLLLL!!!!.

LET IT BE

Posted in Kehidupan, Love on Agustus 30, 2008 by Sunshine

Aku berada pada satu kesimpulan ketika aku berhubungan dengan orang, dan ketika orang itu mengecewakan kita dan akhirnya pergi jauh, maka sosok itu tak akan dapat dilupakan dan tergantikan.
Mengapa? karena masing-masing orang memiliki kualitas dan keunikan tersendiri. Bagiku, aku tak dapat melupakan 100% orang yang sudah pernah berhubungan dengan ku sebegitu gampangnya seperti mengganti menu makanan untuk sarapan pagi. Masing-masing manusia punya kekhasannya sendiri, dan ketika dia hilang maka akan hilang tapi tak kan pernah tergantikan.
Bagiku sosok itu memang sangat menakjubkan…namun aku tak boleh memiliki pengharapan lebih dengan pria ini. Bersamanya aku tahu, tak akan pernah mendapatkan sosoknya dengan utuh.
Mungkin aku gila? Mungkin… Tidak berpikir waras atas ‘kerugian’ yang mungkin akan terjadi? Mungkin juga. Tapi aku suka, dan konsekuensi atas apa yang aku pilih -berlaku sebagai perempuan dewasa- pasti harus bisa menanggungnya. Sejenak, tapi menyenangkan. Aku menikmati saat singkat bersamanya. Tanpa tuntutan, tanpa keterpaksaan, tanpa batasan. Menyamankan meski aku tahu itu sangat tak nyaman.
Aku tak silau dengan kedudukannya, aku tak butuh uangnya, aku tak butuh kekuasaannya, ataupun semua fasilitas yang dia punya. Aku hanya ingin menghabiskan sedikit waktu untuk duduk dan mendengarkannya bercerita tentang perjalanannya atau sekedar mendengarkan ia mengeluh. Berlebihankah perasaanku padanya? Seperti air mengalir yang keliatan tidak berpendirian tapi justru arus air itu yang paling berpendirian karena ujungnya adalah pasti menuju ke laut.