Memang hanya cermin yang mengungkap kebenaran.
Dimanakah cermin kita?
Kusam, retak dan berdebu, itukah cermin kita?
Lelaki ini….lidah api bagi hidupku yang beku
Namun ia lihai sekali mempermainkan hati orang, atau barangkali hanya aku saja yang bodoh. Mau saja percaya dan ikut serta dalam permainan konyol ini. Ia lelaki yang mampu menyulut getaran dalam diriku…dan membuatku tetap disana.
Mengapa cinta datang saat ia sudah terikat hati yang lain?
Selalu mencoba tersenyum walau hati ini menangis, kata-kata dari bibirku pun tak pernah seperti faktanya. Begitu sulitnya menawarkan kejujuran, kebohongan justru lebih manis dihirup dan awet disimpan.
Tuhan, tolong buat ia mengerti bahwa aku cinta dia dengan perasaan, sepenuh hatiku.
“Kau ucapkan Cinta ketika mendaki tubuhku.
Ketika malam berakhir, Cinta pun lari.
Inikah cinta??”
Biarkan aku merantai malam
Agar selamanya bintang memijarkan perasaan
Biarkan aku menyekap pagi
Agar tak pernah lagi mentari mengusir mimpi
Dan kau menjadi milikku
Hanya untukku
Sepanjang hidupku
Sulitkah itu?